TEMPLATE ERROR: Unknown runtime binding: else in widget
Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

Sunday, February 10, 2013

Sejarah Perkembangan Nahdlatul Wathan Pada Masa Maulana Syaikh [Bagian 5]


Sejarah Perkembangan Nahdlatul Wathan Pada Masa Maulana Syaikh [Bagian 5] (100% Working Link)

SAMBUNGAN dari [Bagian 4] :: Prestasi lain yang dicapai NW pada masa Syaikh adalah pengembangan dakwah islamiyah di Lombok. Syaikh telah berhasil melakukan dakwah di Lombok termasuk ke komunitas Wetu Telu1. Komunitas Wetu Telu hampir punah karena kuatnya arus konversi ke Islam Waktu Lima hanya sebagian kecil komunitas yang masih mempraktikkan ajaran Wetu Telu. Keberhasilan dakwah ini karena Syaikh menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh Wali Songo di Jawa. Dia sangat akomodatif dan respek dengan budaya lokal serta mampu menggunakan simbol-simbol budaya lokal untuk kepentingan dakwah keagamaan.

Masuknya gerakan dakwah oleh tokoh-tokoh NW dan tokoh Islam lainnya telah menarik simpati sebagian warga Islam Wetu Telu. Mereka bersedia menyekolahkan putra-putra mereka di madrasah NW di Pancor. Sebagian juga belajar di pesantren TGH. Mutawalli dari Jero Waru, Lombok Timur. Setelah selesai masa pendidikan, mereka kembali ke kampung dan melakukan kegiatan dakwah dan mendirikan madrasah. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai tuan guru atau guru agama di sekolah mereka. Daerah-aerah yang menjadi basis komunitas Islam Wetu Telu seperti di desa Sukarara dan Sakra di Lombok Timur, desa Bleka dan Mujur di Lombok Tengah, desa Lembuak, Narmada di Lombok Barat dan desa Bayan di Lombok Utara telah bergeser komposisinya. Sebelumnya, jumlah pengikut Islam Wetu Telu di daerah tersebut sekitar 60% dan sisanya adalah penganut Islam Waktu Lima, sekarang justru terbalik 40% Islam Wetu Telu dan 60% Islam Waktu Lima.

Adapun kelemahan NW selama kepemimpinan Syaikh adalah pada aspek manajemen konflik. Syaikh tidak menyadari adanya ancaman besar akan terjadi konflik dan perpecahan di kalangan keluarga dan elit-elit NW akibat kontestasi kekuasaan dan dominasi sumber-sumber modal di dalam maupun di luar NW. Selain itu Syaikh seringkali mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kontra-produktif di tengah-tengah jamaah NW sehingga menimbulkan multi interpretasi bahkan kesalahpahaman terhadap pemaknaan ungkapan Syaikh tersebut. Dia juga cenderung mendengar elit-elit NW yang dekat dengan dirinya tanpa melakukan cross-check kebenaran atas data atau informasi itu. Munculnya kasus pemecatan yang kontraversial terhadap elit-elit NW adalah salah satu bukti lemahnya managemen konflik dan kontrol informasi yang masuk kepadanya. Selama masa hidupnya telah terjadi berbagai peristiwa konflik dan perpecahan internal elit-elit NW seperti kasus tahun 1977 dan 1982.

NW kembali dilanda konflik dan perpecahan pada tahun 1982 karena persoalan politik dengan Partai Golkar. Kasus tahun 1982 pada awalnya merupakan konflik eksternal dengan pengurus partai Golkar, kemudian merembet menjadi konflik internal elit-elit NW karena perbedaan kepentingan. Pada Pemilu legislatif tahun 1982 organisasi NW mengisyaratkan diri untuk keluar dari partai Golkar karena kecewa dengan sikap partai ini yang tidak pernah merealisasikan sebagian janji-janji politiknya. Pada waktu itu NW melakukan gerakan tutup mulut (GTM) tidak memberi pernyataan secara jelas akan mendukung salah satu partai, tetapi ada kecenderungan elit-elit NW mendukung PPP. Elit-elit NW yang menjadi anggota dewan dari Partai Golkar dihadapkan pada pilihan yang sulit, apakah tetap di Golkar atau keluar dari partai Golkar dengan melepas jabatan mereka sebagai anggota dewan. Sementara jika tetap di Golkar sama artinya meninggalkan atau berkhianat kepada guru ‘Syaikh’ dengan konsekuensi harus rela keluar dari NW. Sebagian elit-elit NW memilih tetap di Golkar seperti TGH. Najamudin dari Praya dan TGH. Zainal Abidin dari Sakra. Mereka tetap aktif di partai Golkar karena kepentingan politik pribadi dan keluarga. Selain itu, mereka menilai bahwa Syaikh tidak menggunakan bahasa yang tegas dengan keputusan GTM tersebut yang akhirnya menimbulkan multi tafsir di kalangan elit-elit NW, sebagian elit memaknai boleh tetap di Golkar dan sebagian mengartikan harus keluar dari Golkar.

SELESAI


Sejarah Perkembangan Nahdlatul Wathan Pada Masa Maulana Syaikh [Bagian 5] (100% Working Link)

Socializer Widget By Madrasahku
SOCIALIZE IT →
Follow Me →
SHARE IT →

0 komentar:

Post a Comment

komentar